eksposbandung – Hingga kini Kota Bandung belum benar-benar merdeka dari persoalan sampah. Pemerintah terus berupaya memutar otak dengan berbagai langkah untuk mencari solusi atas masalah tersebut.
Kondisi itu terlihat dari puluhan truk sampah per hari yang tidak terangkut ke TPA Sarimukti akibat pembatasan ritase. Sampah yang tersisa kemudian diolah menggunakan mesin insinerator.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyebut Bandung menghasilkan 180 ritase sampah per hari. Dari jumlah itu, hanya 140 ritase yang terangkut ke TPA, sementara 40 ritase atau setara 40 truk tersisa setiap hari.
Baca Juga: Pedagang Pasar Baru Menang Gugatan, Tuntut Kios dan Sewa
“Kami menargetkan akhir tahun ini surplus 40 ritase itu sudah habis terolah. Politik anggaran kami sudah jelas, sebagian besar diarahkan untuk penanganan sampah,” tutur Farhan.
Farhan menilai teknologi pengolahan milik Pindad, seperti insinerator yang telah diterapkan di Kecamatan Bandung Kulon, terbukti efektif. Ia berharap Pindad juga mengembangkan mesin pengolah sampah organik, mengingat 60 persen sampah di Bandung berasal dari organik.

Selain itu, Farhan mengusulkan penggunaan kendaraan compact khusus untuk mengangkut sampah di jalan-jalan kecil, menggantikan triseda yang dinilai tidak tahan lama.
“Kalau ada Compactor sampah seukuran kendaraan Maung, itu akan jauh lebih sustainable,” ucapnya.
Farhan mengungkapkan Pemkot Bandung menutup opsi pembangunan fasilitas waste-to-energy skala besar karena keterbatasan lahan dan risiko lingkungan. Ia menyatakan fokus pemerintah saat ini adalah menerapkan solusi terdistribusi yang ramah lingkungan dan cepat dijalankan.
“Kolaborasi seperti ini memberi harapan besar. Target kami, Januari 2027 Bandung sudah bebas dari tumpukan sampah di pagi hari,” ujarnya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung, Darto, menyebut pihaknya telah mengoperasikan sembilan insinerator untuk mengolah sisa sampah yang tidak terangkut ke TPA Sarimukti.
“Dari 9 insinerator itu, ada yang bisa mengolah 1 ton, 4 ton, terus dua mesin bisa 32 ton. Kita targetkan 30 ritase sampah yang tidak terbuang bisa kita olah,” ucap Darto.
Darto merinci, dari sembilan insinerator yang beroperasi, tiga unit berada di dua titik Kecamatan Bandung Kulon, sementara lainnya tersebar di Babakan Sari, Gandapura, Jalan Indramayu, dan kawasan Taman Cibeunying.
Ia menambahkan, satu mesin dibeli pemerintah dengan dana APBD sebesar Rp1,7 miliar, sedangkan delapan unit lainnya disediakan oleh investor.
“Selain itu, ada banyak metodelogi yang kita pakai misalnya magotisasi, itu 4,6 persen dampaknya bisa dikurangi, bank sampah, Kang Pisman, RW KBS, dan Loseda. Itu semua metode yang sudah kita terapkan dalam upaya menangani sampah,” tandasnya.